BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
istilah "Aksi Bela Islam" mendadak populer dalam kosa-kata gerakan politik-keagamaan kontemporer di Indonesia. Istilah ini merupakan mantra ampuh untuk memobilisasi dukungan umat Islam dalam merespons isu-isu sosial dan politik aktual yang dianggap berkaitan dengan nasib dan kepentingan umat Islam. Tidak ada yang salah dengan inisiatif aksi solidaritas atas dasar persamaan keyakinan. Yang penting dipahami, memperkuat solidaritas sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) tidak boleh menegasikan solidaritas kebangsaan yang majemuk (ukhuwah wathaniah) dan solidaritas kemanusiaan (ukhuwah basyariah). Klaim "Aksi Bela Agama" bukanlah monopoli kelompok keagamaan tertentu. Pembelaan terhadap agama Islam hendaklah berpijak pada kepentingan menjaga hak-hak umat Islam yang selaras dengan bangunan politik kebangsaan yang inklusif dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Nalar "Membela Islam, Membela Kemanusiaan" adalah bahwa membela Islam haruslah kongruen dengan membela kemanusiaan. Komitmen membela Islam akan sukar diterima jika aktualisasinya justru mengancam nilai-nilai keadaban, kebinekaan, dan kemanusiaan. Semangat membela Islam akan kehilangan esensinya apabila mengarah pada otoritarianis Buku ini tak hanya memotret tantangan peradaban Islam di Indonesia masih diliputi problema tafsir teks yang kaku, tetapi juga menambah perspektif optimistik bahwa Islam memayungi kemajemukan budaya dan menyuarakan keadilan. Penulis sangat cerdas menyajikannya dalam bahasa yang populis sehingga renyah untuk dicerna" -Prof. Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI "Fajar Riza Ul Haq terus berusaha mencari mediasi-antara lain melalui tulisan-tulisannya-untuk mendorong transformasi sosial menuju Indonesia yang semakin adil dan sejahtera." -Mgr. Ignatius Suharyo Pr, Uskup Agung Jakarta "Karya ini patut dibaca bukan saja oleh kalangannya sendiri, tetapi juga oleh publik Indonesia umumnya. Sebagai seorang intelektual-aktivis, penulisnya punya jaringan luas yang merupakan modal tambahan bagi bobot karyanya. Sebagai Muslim, penulis menunjukkan sikap kritisnya terhadap umat Islam yang jauh dari idealisme Islam tentang persatuan umat." -Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah [Mizan, Mizan Publishing, Wacana, Islam, Indonesia, Fiksi, Agama, Polittik]
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
“Buku Khazanah Intelektual Islam, suntingan Prof Nurcholish Madjid, kini sudah menjadi klasik. Pertama kali diterbitkan pada 1984, karya ini tetap relevan untuk memahami intelektualisme Islam; tidak hanya di masa silam, tapi juga dewasa ini dan masa depan. Dengan kandungannya yang mencakup berbagai tokoh terkemuka pemikir Islam yang mewacanakan pemikiran sejak dari kalam, filsafat, tasawuf, sampai sosial-politik, karya ini menjadi bacaan wajib setiap dan seluruh mereka yang ingin memahami khazanah pemikiran Islam. Karya monumental ini sepatutnya menjadi inspirasi untuk menggali lebih dalam dan lebih luas khazanah intelektual lain, termasuk khazanah intelektual Islam Indonesia.” Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta “Agama tidak hanya bersifat ilahi, melainkan juga merupakan fenomena sosial historis. Demikian pesan penting buku ini yang melihat agama dengan perspektif filosofis. Dalam konteks tersebut, tidak diragukan lagi, Nurcholish Madjid adalah pionir yang membukakan jalan bagi tumbuhnya pemikiran filosofis, rasional dan humanis di kalangan generasi muda intelektual Islam di Indonesia. Buku ini sangat perlu dibaca mengingat semakin kuatnya kecenderungan menjauhkan pemikiran filosofis dan rasional dari agama. Dengan memahami agama secara filosofis dan rasional, masyarakat terdorong untuk lebih bersifat toleran, inklusif dan humanis sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.” Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A. Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) “Hingga kini mungkin tak seorang pun intelektual Muslim Indonesia yang telah mewariskan api dan cahaya peradaban Islam sejernih dan sekomprehensif Nurcholish Madjid dalam korpus karya-karyanya. Buku Khazanah Intelektual Islam ini adalah bagian integral darinya. Hutang akal-budi mayoritas bangsa kita kepada Cak Nur sungguh tak terkira.” Prof. Dr. Mochtar Pabottingi Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) “Saya membaca buku ini pertama kali waktu saya masih menjadi santri di Pati, Jawa Tengah. Terus terang, ini adalah salah satu buku penting yang membentuk pikiran dan pemahaman saya atas Islam. Melalui buku ini, saya menjadi “melek” untuk pertama kali atas kekayaan pengetahuan yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim di masa klasik dulu. Melalui buku ini, saya belajar bahwa Islam bukan sekadar akidah dan ritual saja, melainkan juga peradaban pemikiran yang begitu agung dan menakjubkan. Buku ini, menurut saya, menjadi kian relevan lagi hari-hari ini, di era ketika menjadi Muslim bagi sebagian kalangan identik dengan tindakan menutup diri secara pemikiran dan membenci keragaman.” Ulil Abshar Abdalla Pengampu Ngaji Ihya’ Ulumuddin
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Arguing pro and con on Liberal Islam according to Indonesian Muslim intellectuals engaged with the issues of global modernity.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Role of Muhammadiyah on politics of Islam in Indonesia; festschrift in honor of 70th anniversary of Ahmad Syafii Maarif; collection of articles.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
From the beginning, Islam faces many challenges from its foes, that is, the disbelievers-atheism, Jews and Christians, secularism, liberalism, pluralism, etc.-who want to extinguish Islam and its foundation from this world. Since the fall of the Islamic empire in the fifteenth century, Muslim countries pathetically came under the dominance of Western powers in almost every aspect of life. The United States of America and other powers foreign policies generally have hidden agenda to weaken the Muslim countries so that they can keep on dominating the Muslim world. They give support to the secularist, liberalist, and pluralist groups in the Muslim countries to go against the Islamic traditionalists and fundamentalists. Although there are more than a billion Muslims in the world, they are weak and have become marginalized. Gone is the power of the Muslims of the past. Therefore, the contemporary Muslims have no choice but to wake up to face the challenge if they are genuine Muslims because they are the best ummah ever created by Allah. During the height of Islamic empire, Islam stayed strong and kept on spreading its wing throughout the world because of charismatic and credibility some of its leaders. Islam is a universal religion that brought enlightenment to human race. Nevertheless, Muslim nations in the modern era of globalized world are disobedient lot unlike the Muslims of the past; thus they become weak. Globalization is the creation of the Western imperialists as a tool to control world trade and economy of other nations. Small and underdeveloped nations are often unfairly treated. The polarization and bloody borders between the Christians West and the Muslims are now become more transparent than ever before. The wounds inflicted by the Americans and the West in Palestine, Iraq, Afghanistan, Yemen, Sudan, Somalia, and others are still bleeding and bloody. The usage of the words such as Islamophobia and the Muslims as terrorist frequently propagated throughout the world against Islam, thereby affecting the feeling of friendly and moderate Muslims in general. The cruelties inflicted on many of the innocent Muslims directly or indirectly give a green light for some hardcore Muslims to retaliate in a more radical way, including suicide bombing. The difference perception of faith, moral character, social, ethic, economy, politics, law, etc., in Islam with other religions are wide apart. Islam is a religion of Oneness of God (Islamic Monotheism) whilst the others are not. Islam taught the Muslims to live side by side in co-existence and in peace with the others provided there is a mutual respect with one another. Islam is a moderate religion. The whole universe and its contents absolutely belong only to Allah. Human race are His servants to take good care of the earth. Muslim ummah in the modern world miserably failed in their responsibilities in this world because most of them are lack of faith in Allah. They have deserted al-Quran and al-Sunnah of Prophet Muhammad (pbuh) in their way of life. Nevertheless, ultimately near the end of the world the Muslims will win as promised by Allah although disbelievers do not believe it.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Indonesia's Muslims are still pondering the role of religion in public life. Although the religious violence marring the transition towards democratic reform has ebbed, the Muslim community has polarised into reactionary and progressive camps with increasingly antagonistic views on the place of Islam in society. Debates over the underlying principles of democratisation have further heated up after a fatwa issued by conservative religious scholars condemned secularism, pluralism and liberalism as un-Islamic. With a hesitant government dominated by Indonesia's eternal political elites failing to take a clear stance, supporters of the decision are pursuing their Islamisation agendas with renewed vigour, displaying growing intolerance towards other religions and what they consider deviant Muslim minorities. Extremist and radical exponents of this Islamist bloc receive more international media coverage and scholarly attention than their progressive opponents who are defiantly challenging this reactionary trend. Calling for a true transformation of Indonesian society based on democratic principles and respect for human rights, they insist that this depends on secularisation, religious toleration, and freethinking. Conceived as a contemporary history of ideas, this book aims to tell the story of these open- minded intellectuals and activists in the world's largest Muslim country.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
This comprehensive introduction explores the landscape of contemporary Islam. Written by a distinguished team of scholars, it: provides broad overviews of the developments, events, people and movements that have defined Islam in the three majority-Muslim regions traces the connections between traditional Islamic institutions and concerns, and their modern manifestations and transformations. How are medieval ideas, policies and practices refashioned to address modern circumstances investigates new themes and trends that are shaping the modern Muslim experience such as gender, fundamentalism, the media and secularisation offers case studies of Muslims and Islam in dynamic interaction with different societies. Islam in the Modern World includes illustrations, summaries, discussion points and suggestions for further reading that will aid understanding and revision. Additional resources are provided via a companion website.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Interreligious relations between Islam and Christianity; articles.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Sebagaimana judulnya, “Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan,” buku ini hendak menyuguhkan prinsip-prinsip Islam yang berwatak moderat, humanistik, inklusif, santun, toleran terhadap puspa ragam pandangan, terbuka terhadap pelbagai perbedaan, menebarkan aroma kedamaian, rahmat, cinta, kasih sayang serta keindahan bukan hanya kepada sesama kaum Muslim melainkan juga kepada nonmuslim. Islam yang dikembangkan di Indonesia adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, santun, dan mampu menawarkan solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, subkultur, kearifan lokal, dan fakta agama yang beragam. Islam yang memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan, keteduhan, dan perlindungan kepada semua orang yang berdiam di bawah payung besar Nusantara tanpa diskriminasi, apa pun agama yang dianutnya. Sebuah potret Islam yang humanis bagi kemanusiaan, sekaligus rahmatan lil ‘alamin bagi semesta. Buku ini hendak menegaskan bahwa agama Islam merupakan living and dynamic religion, agama yang senantiasa bergerak secara dinamis dan hidup; Sehingga Islammemiliki potensi yang abadi dan masa depan umat Islam dapat membuahkan aktualisasi potensi yang lebih besar ketimbang yang pernah ada di masa silam. Oleh karena itu, Islam harus menjelma spirit dan kekuatan progresif yang selalu menawarkan kesempatan tiada akhir untuk meraih pencapaian dalam bidang material dan intelektual, moral dan spiritual yang lebih besar di masa depan. Inilah yang diinginkan dengan paradigma humanisme Islam dalam karya sederhana ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Thoughts of Nurcholish Majid, an Indonesian Muslim scholar, on human rights from Islamic teaching perspectives in Indonesia.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Buku ini menganalisis secara kritis-apresiatif argumen para pemikir muslim yang tergabung dalam pemikiran Islam eksklusif, inklusif, dan pluralis di Indonesia tentang esensi Islam dan sikap al-Qur'an terhadap penganut Yahudi dan Nasrani. Selain itu, penulis juga menawarkan argumen pemikiran Islam sendiri tentang kedua masalah tersebut dengan menggunakan metode berpikir pluralis dan humanis. Hasilnya, buku kritis ini menawarkan konsep Islam tunggal universal dan plural. Semua agama Samawi yang disebut Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah satu esensi, yakni Islam, sebagai sikap kepasrahan total manusia kepada Allah. Buku ini juga menawarkan penyikapan yang humanis kepada pihak-pihak lain yang satu esensi itu, terutama dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini. Dengan metode berpikir tersebut, nilai-nilai luhung rahmatan lil 'alamin Islam akan memancar luas ke pelbagai aspek kehidupan umatnya sendiri sekaligus umat agama lain: sebuah bangunan berbangsa dan bernegara yang menjadi dambaan semua orang.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Islam dengan misi rahmatan lil’alamin yang diembannya sering kali dikontraskan antara idealisme ajarannya dengan realitas umatnya. Tak hanya itu, Islam juga sering didikotomisasi antara dimensi sakral dengan dimensi profan ajarannya; antara teosentris dengan antoposentris kandungannya; bahkan antara aspek religiositasnya yang paling asasi dengan perkembangan peradaban bangsa yang paling terkini. Buku ini mencoba merekonstruksi pemaknaan Islam sebagai agama samawi terakhir yang sempat terlahir di muka bumi ini. Kita menyadari, di tengah derasnya arus globalisasi dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini posisi Islam sering diperdebatkan. Apakah Islam harus takluk mengikuti irama perubahan yang niscaya atau sebaliknya, setiap perubahan mesti memiliki acuan formal berupa nilai-nilai mashlahah dalam ajaran suci? Kemunculan wahyu sebagai sumber inspirasi ajaran mempunyai nilai kebenaran mutlak dan absolut. Tetapi pemahaman terhadap teks wahyu itu sendiri bersifat nisbi dan relatif. Melalui kerangka pemahaman wahyu yang kreatif dan dinamis (istinbath) diharapkan Islam dapat memantulkan nilai-nilai eternal dan universal. Dalam tataran praksisnya, Islam sering memadukan dua titik ekstrimitas yang saling berlawanan: antara esoteris dan eksoteris; antara konstan dan elastis; antara pokok dan cabang; antara otoritas wahyu dan kapasitas akal-budi; dan seterusnya. Dengan pemaknaan seperti ini Islam diharapkan tampil dengan performanya yang inklusif, moderat dan kosmopolit menghadapi tuntutan perubahan tanpa harus bergeser dari titik orbitnya.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Setiap siswa yang sedang bersekolah mempunyai potensi mengalami permasalahan dalam belajar, masalah yang mereka alami bervariasi ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari guru dan ada pula yang berat sehingga siswa ini harus mendapatkan perhatian terutama dari guru yang bersangkutan. Siswa berkebutuhan khusus tidak selalu mengalami masalah dalam belajar, kadangkala mereka dapat belajar seperti siswa-siswa lain pada umumnya, hanya saja mereka membutuhkan perhatian yang lebih khusus dari guru dan mereka butuh pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi mereka agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan harapan guru, orangtua dan sekolahKelainan pada siswa-siswa berkebutuhan khusus ini memiliki tingkatan dari yang paling ringan sampai yang paling berat, dari yang mengalami kelainan tunggal, ganda, hingga yang kompleks dan biasanya berhubungan dengan emosi, fisik, psikis dan sosial. Mereka tersebar baik di daerah perkotaan, pedesaan bahkan di daerah-daerah terpencil. Tidak memandang suku, etnis maupun bangsa. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa siswa berkebutuhan khusus mesti dikasihani dan dianggap sosok yang tidak berdaya sehingga perlu dibantu. Pandangan seperti ini tentu saja sangat tidak benar dan dapat merugikan siswa-siswa berkebutuhan khusus. Setiap siswa mempunyai kekurangan, namun pasti disamping itu mempunyai kelebihan. Oleh karena itu kita selayaknya melihat siswa-siswa berkebutuhan khusus ini baik dari segi kemampuan mereka maupun ketidakmampuannya. Dengan begitu kita dapat mengembangkan potensi yang tersimpan dalam diri mereka secara optimal
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Seiring dengan menggelindingnya roda reformasi, pendidikan sebagai salah satu isu penting dalam otonomi sebagai produk unggulannya. Maka, pendidikan Islam memiliki bargaining secara politik di tataran elite lokal. Tidak sedikit produk kebijakan pendidikan Islam merupakan hasil komitmen antara eksekutif dan legislatif. Meskipun tidak ada Peraturan Walikota yang secara eksplisit menyuratkan pendidikan Islam, tetapi secara implisit sangat akomodatif terhadap pendidikan Islam. Hal ini merupakan fakta menarik, karena Pemerintah Kota Surabaya mampu “mengawinkan” antara dua ranah kebijakan, yaitu urusan pendidikan yang diotonomikan dengan urusan agama yang diotonomikan dengan urusan agama yang sentralistik di Kementerian Agama. Buku yang ditulis lulusan terbaik tahun 2017 ini layak dibaca oleh praktisi dan pengelola lembaga pendidikan, guru, dosen, widyaiswara, pemerhati pendidikan, pemangku kebijakan dan mahasiswa, khususnya mahasiswa yang sedang mengambil program studi pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam ataupun Manajemen Pendidikan Islam. Dengan mengelaborasi kajian kebijakan di era otonomi, yang tentu kental dengan politik lokal, buku ini diharapkan dapat menambah khazanah dan literatur kajian Politik Pendidikan Islam. Karena itu, saya sangat mengapresiasi hadirnya buku ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca. Prof. H. Masdar Hilmy, MA, Ph.D. Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Influences of Christian and Western civilization on Islamic studies in Islamic higher education in Indonesia.
BookOpen AccessMetadata saja
2020•Koleksi Perpustakaan
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) akhir-akhir ini semakin memprihatinkan dan dirasakan kurang dapat menarik semangat belajar peserta didik, kemudian keadaan ini diperparah dengan proses pembelajaran serta materi ajar yang terlalu mengedepankan paham eksklusif daripada paham dan praktik inklusif. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin merosotnya sikap menerima dan menghargai perbedaan di kalangan masyarakat khususnya di kalangan peserta didik di sekolah. The learning of Islamic Education (PAI) is increasingly concerned and perceived less attraction of the spirit of student learning lately. Then the condition is worsened with the learning process and teaching materials which set out more exclusive than inclusive understanding and practices. This is evidenced by the decline of attitude of accepting and appreciating differences among the community especially among students in school. في هذه الأواخر، أصبحت التربية الإسلامية خطرا بشكل متزايد ويشعر بأنها أقل قدرة على جذب حماس الطلاب ، ثم يتفاقم هذا الموقف من خلال عملية التعلم والمواد التعليمية التي تقدم أفكارا حصرية بدلا من الفهم والممارسات الشاملة. يتضح هذا من خلال الموقف المتدهور المتمثل في قبول واحترام الاختلافات بين المجتمع ، وخاصة بين الطلاب في المدارس. Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan Asia Tenggara memiliki keragaman budaya yang kompleks. Data secara antropologis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki keragaman sosial dan budaya. Kelompok-kelompok budaya besar seperti Aceh, Batak, Minangkabau, Dayak, Jawa, Bugis-Makasar, Ambon, Papua dan lain-lain adalah contoh dari keragaman tersebut (Departemen Pendidikan Nasional, 2006). Maka, hadirnya buku pembelajaran Pendidikan agama Islam berwawasan Multikultural ini di sekolah/madrasah diharapkan mampu membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial sehingga pendidikan agama Islam diharapkan mampu menciptakan ukhuwah Islamiyah, dalam arti luas Ukhuwah fi al-'ubudiyah, ukhuwah fi al-Insaniyah, ukhuwah fi al-Wathoniyah wa al nasab, wa ukhuwah fi din al Islam (Muhaimin, 2004). Buku wajib ini sangat berguna bagi mahasiswa khususnya mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam agar dapat memahami, mengikuti, dan mengaplikasikan materi perkuliahan Agama Islam dengan baik, mampu membahas, meneliti dan mendiskusikannya, sehingga berimplikasi pada sikap penerimaan dan penghargaan terhadap keniscayaan multikultural.