Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan link and match di pendidikan vokasi, di mana program Teaching Factory (Tefa) wajib menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki Budaya Kerja 5S/5R dan K3 yang diterapkan. Permasalahan utama penelitian ini adalah menganalisis bagaimana implementasi manajemen program Tefa dalam pembentukan Budaya Kerja 5S/5R dan K3 siswa Jurusan Teknik Mesin, yang ditinjau melalui empat fungsi manajemen G.R. Terry (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sinergi (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dalam menanamkan Kepatuhan K3, Budaya 5S/5R, dan Inisiatif Tanggung Jawab Tim pada siswa. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif, di mana data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam kepada kepala sekolah, kapal jurusan, guru produktif dan siswa, serta studi dokumentasi (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan, Work Instruction, Laporan Cacat Produk). Hasil temuan menunjukkan bahwa manajemen Tefa berjalan secara sinergis dan utuh: Planning berhasil mendapatkan legitimasi eksternal (Sinkronisasi Mutu Dunia Usaha Dunia Indsutri) dan menetapkan Budaya Kerja sebagai Capaian Budaya Wajib. Organizing menciptakan Teaching Factory dalam membentuk budaya K3 dan 5S/5R kepada siswa. Actuating berhasil menanamkan Kebiasaan 5S/R Kebutuhan melalui role model guru dan penekanan pada konsekuensi mutu. Terakhir, Controlling berfungsi sebagai mesin pembelajaran sistem dengan mengikat Data Cacat Produk sebagai Kegagalan Budaya dan menjalankan Umpan Balik Kaizen untuk perbaikan berkelanjutan. Kesimpulan penelitian ini adalah sinergi keempat fungsi (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) secara efektif membentuk dan menjamin konsistensi Budaya Kerja siswa, dengan keberhasilan utama terletak pada transformasi motivasi disiplin dari eksternal menjadi internal, yang divalidasi oleh industri.